Kualitas Tenaga Kesehatan Indonesia di Mata Dunia

Puji syukur alhamdulillah kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan waktu sehingga masih dapat bersua dan menjalankan aktifitas seperti biasa. Semoga Bapak / Ibu, dan rekan-rekan sejawat di Indonesia juga demikian keadaannya.

Tenaga Kesehatan kita saat ini mulai diminati dan menjadi perhatian lebih oleh berbagai lembaga penyedia layanan kesehatan dunia. Mereka mampu bekerja di kancah internasional dan beradaptasi dengan baik, sehingga menilik besarnya potensi ini, maka sangatlah tepat jika kita bersedia mendukung dan mulai mengubah arah kiblat pendidikan kesehatan di Indonesia untuk lebih fokus diarahkan bekerja di luar negeri.

Menurut laporan ada Profil Kesehatan Indonesia 2020 yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2021, jumlah lulusan perawat Poltekes jenjang Diploma 3 (D3) adalah 5.802 orang, Diploma 4 (D4) sejumlah 1.885 orang serta lulusan dari berbagai perguruan tinggi baik negeri atau swasta, berbagai jenjang, juga dari spesialis sampai profesi didapatkan angka sebanyak 116.485 orang. Dengan total SDM baru sebanyak 124.172 orang, ini adalah angka yang fantastis!

Jika kita menilik jumlah penerbitan STR perawat baru tahun 2020 sebanyak 36.506 dokumen, artinya ada selisih 87.666 orang yang belum memiliki STR. Analisa sederhana, jika yang sudah ber-STR sebanyak 36.506 itu saja belum tentu terserap kerja semuanya, bagaimana dengan angka 87.666 yang belum memiliki STR? Hitungan ini hanya tahun 2020, belum termasuk akumulasi tahun lalu juga tahun yang akan datang. Disamping itu, tidak setiap tahun instansi lembaga penyedia layanan kesehatan membuka lowongan kerja. Lalu, mau ‘lari’ kemana?

Potensial lapangan kerja seperti rumah sakit, klinik, dinas kesehatan, perguruan tinggi, klinik kedokteran umum dan gigi, klinik utama dan pratama, nusantara sehat, BPJS, Perusahaan, Perawat Praktik Mandiri, laboratorium, homecare, atau lembaga non kesehatan seperti bank, logistic dan sejenisnya juga tak setiap tahun membuka Job Vacancy.

Fenomena gunung es ini sungguh nyata! Tingginya angka lulusan tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja akan membuat nakes-nakes baru kita kesulitan mendapat pekerjaan. Hal ini justru menyumbang tingginya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia yang sampai saat ini angkanya meningkat 7.07% menjadi 9.76 juta orang.

Maka, peluang kerja di luar negeri adalah kesempatan emas yang harus dicoba. Kalau perlu doktrinkan sejak dini kepada semua peserta didik baru untuk memiliki visi dan misi bekerja di luar negeri selepas lulus nanti. Lebih membanggakan lagi, jika mereka bisa bereksplor dan melanjutkan kuliah di luar negeri.

Mungkin Bapak / Ibu sedikit banyak telah banyak mendengar para nakes-nakes kita bisa sukses bekerja di luar negeri. Selain memiliki gaji yang tinggi, memiliki pengalaman di dunia kerja yang terintegrasi dengan standar kesehatan dunia, mampu beradaptasi dengan majemuknya budaya dan bahasa serta bisa mendapatkan bonus kemudahan ibadah umrah dan haji (bagi mereka yang bekerja di Arab Saudi) dan benefit-benefit lainnya. Namun, “Sukses” itu relative, kembali darimana dan bagaimana kita mengukurnya. Selain melihat alumni sebagai hasil dari produk pendidikan, kita perlu menilik lebih dalam bagaimana proses produk itu dihasilkan termasuk system dan kualitasnya.

Perlu kita ketahui bersama bahwa pendidikan Indonesia memang semakin maju, namun persepsi terhadap pendidikan Indonesia bagi kalangan birokrat di Arab Saudi seolah mundur 20 tahun ke belakang. Ini ada kaitannya dengan ranking perguruan tinggi dan system pendidikan yang diterapkan. Dalam pawai pendidikan, perguruan tinggi Malaysia dan Singapura yang selalu diundang namun minus perguruan tinggi Indonesia. Faktanya, perguruan tinggi negeri di Indonesia seperti Universitas Gajah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI) masuk 200 besar dunia yang setara dengan perguruan tinggi di Arab Saudi.

Hal tersebut nampak lebih nyata jika kita coba hubungkan dengan cerita ini. Dua bulan yang lalu, lima orang delegasi dari Kementerian Kesehatan (MoH) Arab Saudi datang ke Jakarta. Tujuan mereka ingin merekrut tenaga kesehatan kita baik perawat dan bidan dari berbagai jenjang pendidikan. Mereka butuh kuota yang harus dipenuhi sekitar 450-500 orang yang nantinya akan ditempatkan diberbagai penjuru kerajaan dibawah kementerian. Namun, apa daya. Jumlah pendaftar hanya 20-25 orang saja.

Baca juga :  Rekaman CCTV Kecelakaan Lalu Lintas yang Menyebabkan Kematian dan Cedera 9 Orang di Madinah

Setelah dilakukan berbagai screening test, didapatkan hasil hampir 50% tidak layak lolos. Namun, yang terjadi sebaliknya, MoH justru meloloskannya secara cuma-cuma hanya karena ‘kasihan’. Mereka sengaja menghapus jawaban peserta yang salah dan menggantinya dengan jawaban yang benar oleh mereka sendiri. Mereka sejatinya sangat mengidam-idam kan semua lini kesehatan di Saudi diisi oleh orang-orang Indonesia, karena attitude dan jumlah muslim yang banyak.

Namun, willy-nilly! Mau tidak mau, karena kualitas bahasa nakes indonesia jauh di bawah rata-rata, juga demi memenuhi tuntutan persaingan di dunia kerja mereka terpaksa merekrut orang-orang Non Muslim bahkan dari negara-negara tetangga seperti Filipina, India dan lainnya. Mirisnya, mereka sampai ada yang mengambil nakes non muslim dari Filipina lalu dianjurkan berjilbab untuk penempatan Makkah dan Madinah, karena memang terbatasnya nakes muslim yang qualified.

Di lain hal, mereka malu, jika kembali ke kerajaan hanya membawa 5% dari total kebutuhan. Kejadian ini sepatutnya ‘Menampar’ kita. Seharusnya menjadi evaluasi sedalam-dalamnya dari semua yang kita lakukan. Jika ada yang tidak “Beres” dengan outcome-nya, berarti ada yang salah dengan process-nya. Am I right?

Maka, sekali lagi, sejatinya kita itu belum sukses. Jangan berbangga diri dengan apa yang sudah kita capai saat ini. Perlu ada langkah konkrit bagaimana mem-booster para calon alumni tidak hanya agar mau, tapi juga mampu bekerja dengan baik di luar negeri. Karena jika hanya mau, jumlahnya “Mbludak” (Baca : Sangat banyak), tapi yang mampu hanya segelintir. Bisa jadi kesuksesan kita selama ini hanya hasil dari kasihan orang lain, bukan karena kita memang benar-benar
dihargai secara professional?

Nasionalisme ada kaitannya dengan mencintai tanah air. Bekerja dan sekolah di luar negeri bisa menjadi bagian dari memupuk nasionalisme tanpa terpengaruh dengan budaya Pekerja Migran Indonesia (PMI) bekerja dan sekolah. Hal positif dapat ditiru namun hal negative dapat difilter untuk memperkuat eksistensi menjadi menusia Indonesia seutuhnya.

Di momen yang masih di bulan kemerdekaan, saya mengajak siapapun kita baik pelaku pendidik maupun sebagai peserta didik, yuk berintrospeksi dan melakukan pembenahan. Coba merdeka dari semua kebiasaan selama ini dan cobalah hal baru. Coba kita naikan level kualitas kita dengan kampus-kampus lain di luar negeri.

Setidaknya, kalau kita berada pada ranking rendah kelas dunia, paling tidak bisa terbaik di negeri sendiri. Namun, sekali lagi, ini bukan semata ranking, tapi lebih kepada tujuan bagaimana meningkatkan kualitas SDM kita jauh lebih tinggi dari target-target kita selama ini.

Cobalah buka jendela, buka pintu dan keluar. Pandanglah rumah kita dari luar. Kita akan mampu menilai seberapa baik atau buruknya kita hanya dilihat dari luar. Rasakan langsung bagaimana atmosfer dan hembusan udara segar luar. Engkau kan menemukan hal-hal yang selama ini mungkin tak pernah terpikir sama sekali dalam hari-harimu di dalam rumah.

Sering-sering bercermin di ‘rumah’ tetangga. Bagaimana mungkin, jarak tempuh lokasi yang hanya 30 menit, namun tertinggal puluhan tahun di belakang?

Salam hangat and Good luck!

Ns. Satya Putra Lencana S. Kep., RN
August 27, 2022. Riyadh, Saudi Arabia

___

Referensi :

Ns. Satya Putra Lencana RN

Healthcare | Writer | Social Activism | Pemerhati Pendidikan Kesehatan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.

DSA NEWS UPDATE!Subcribe untuk informasi terbaru

Update informasi Anda bersama Devisa Saudi Arabia (DSA)